INI TANGGAPAN KUASA HUKUM TERDAKWA PELAKU PEMBAKARAN DI SUKABUMI


BERITA TERKINI - Sidang kasus tewasnya pemuda di Sukabumi, Rengga Kasandra (25), masih berjalan di pengadilan. Pemuda tersebut tewas setelah mengalami luka yang cukup parah akibat dibakar pelaku yang tak lain adalah rekan korban sendiri. Jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Cibadak menjerat tiga terdakwa dengan Pasal 170 KUHP pidana tentang Pengeroyokan. Keluarga korban kecewa dengan penerapan pasal tersebut karena menilai perkara ini termasuk pembunuhan berencana. Tapi apa kata pengacara terdakwa?

Pada sidang tuntutan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Cibadak, Rabu 14 Juni 2017, jaksa menuntut tiga pelaku, MRS (18), AS (19) dan HF (20), dengan jumlah hukuman berbeda. HF dituntut hukuman selama dua tahun penjara, MRS dan AS selama lima tahun.

Keluarga korban menganggap tuntutan jaksa itu tidak adil. Pihak Rengga makin kecewa lantaran terdakwa HF yang dituding sebagai pelaku utama dalam kasus tersebut dituntut hukuman lebih ringan.

Ari Aprianto, kuasa hukum ketiga terdakwa, menganggap Pasal 170 dan tuntutan JPU itu sudah tepat. Sebab, menurut Ari, perkara ini bukan pembunuhan berencana. "Kalau saya meminta HF (salah satu terdakwa) bebas, bisa-bisa saja. Keluarga korban tahu sidang, tapi tidak menyimak keterangan-keterangan tersebut. Keterangan saksi banyak, namun perlu diketahui saksi itu kebanyakan tidak melihat. Hanya mendengar dan ada juga yang melihat, namun posisinya sudah terjadi tindak pembakaran," tutur Ari via telepon, Kamis (6/7/2017).

Peristiwa pelaku diduga membakar Rengga terjadi pada Senin 9 Januari 2017 lalu. Korban mengalami luka bakar hingga 80%. Korban sempat menjalani perawatan di RS R.Syamsudin Sukabumi selama lima hari, namun nyawa Rengga tidak terselamatkan.

Selain itu, Ari membantah pernyataan Wawan Rustiawan, orang tua korban, berkaitan HF yang dituding menjadi pelaku utama. Dalam fakta persidangan, menurut Ari, HF tidak terbukti sebagai pelaku utama. 

"Pelaku utama bukan saudara HF, pelaku utama MRS dan AS. MRS punya masalah hutang dengan korban, itupun bukan hutang biasa, tapi berkaitan dengan obat tramadol," ucap Ari.

Ari menjelaskan, MRS membeli obat tramadol kepada korban seharga Rp 900 ribu, tapi ternyata obat yang dipesan MRS tersebut tidak kunjung ada. "Tapi awas, jangan salah tafsir, apakah dia (korban) itu yang menjual obat tramadolnya atau dapat darimana, saya tidak tahu. Jadi itu bukan utang handphone, dan ini ada dalam dakwaan, dalam tuntutan juga ada," ujar Ari.

Menurut Ari, saat kejadian itu posisi terdakwa HF hanya melihat dan tidak mengetahui jika MRS dan AS akan mendatangi Rengga (korban). Awalnya kedua terdakwa ingin meminjam motor milik HF, namun tidak diberikan karena HF tidak diajak. HF bersedia meminjamkan motornya dengan syarat harus ikut bersama MRS dan AS.

"HF posisinya dibonceng dan tahunya akan pergi ke kediaman MRS. Sementara bensin itu niatnya untuk mengisi motor milik MRS. Tapi diperjalanan motor itu dipakai untuk mendatangi korban (Rengga), jadi salah kalau ada anggapan pelaku utamanya ini HF. HF bahkan menghalangi saat bensin itu akan dipakai untuk menyiram korban," tutur Ari.
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar